Ticker

6/recent/ticker-posts

Hidup tanpa Negara

Jauh dari sentuhan tangan pemerintah tentu menjadi sebuah polemik yang tak asing lagi di tanah Papua. Tapi bagaimana jika justru kata "Pemerintah-an"
itupun bahkan asing di telinga masyarakat.
Yah, begitulah kondisi di salah satu daerah di Papua "YAHUKIMO". Jangankan untuk melihat sejauh mana pemerintah telah memberikan sentuhannya di daerah ini, kata Pemerintahan saja masih perlu di jelaskan kepada mereka.
Berbagai masalah kemudian lahir di wilayah dengan 11 klan dan 41 marga ini. Otonom
i khusus yang telah diperkenalkan sejak 2011 lalu untuk menggenjot pertumbuhan pembangunan dan peningkatan pelayanan publik di Timur Indonesia itu nyatanya masih jauh dari sasaran. Birokrasi menjadi salah satu duri terbesar dari alur revolusi wajah Papua. Pembangunan klinik-klinik kesehatan dan sekolah-sekolah menjadi satu-satunya puing-puing manfaat otonomi khusus yang setidaknya masih terasa di mata masyarakat asli papua.
Namun masalah mendasar dari layanan kesehatan dan pendidikan di Papua nyatanya bukanlah pada kurangnya bangunan fisik, namun pada buruknya manajemen Sumber daya manusia.
Kita tentu belum lupa dengan berbagai film yang menunjukkan kehidupan di tanah pertiwi di bagian Timur sana seperti film dengan judul "di Timur Indonesia" dan film lainnya. Bagaiman film tersebut menceritakan sulitnya mencari tenaga pengajar dan tenaga kesehatan khususnya di daerah pedalaman papua "meskipun realitasnya seluruh papua nampaknya seperti sebuah pedalaman".
satutu wilayah digambarkan hanya memiliki 1-2 tenaga pengajar dan tenaga kesehatan dan saat mereka kemudian memutuskan kembali ke daerah asal mereka, butuh waktu yang lama untuk mendapatkan tenaga pengajar dan tenaga kesehatan yang baru.
Hal ini tentu menunjukan bahwa pembangunan di papua nyaris di lakukan tanpa memahami kondisi real dan kebutuhan sebenarnya dari masyarakat Papua. Pemerintah tidak ada disana melainkan hanya interpretasi dan justifikasi pemerintahlah yang ada yang kemudian membuat semuanya tidaklah lebih baik dari sebelumnya.
Pustaka by boby anderson

Posting Komentar

0 Komentar